Become Extraordinary Teacher

Posted in Life | No Comments »

Hello, guys!

Sudah hampir tiga bulan saya bekerja menjadi Science Teacher di A** Internasional School. Sebenernya ini adalah sekolah kedutaan Pakistan, tapi sudah beberapa tahun ini berdiri sendiri hanya masih ada hubungan dengan kedutaan Pakistan. Saya menemukan pekerjaan baru ini dan tantangan baru. Hhaha. Tiga bulan lalu saya memulai pekerjaan ini. Pertama kali sangat menarik, seterusnya pun begitu. Lama-kelamaan saya menemukan hal-hal dan informasi baru yang berhubungan dengan sekolah ini dan belajar untuk berinteraksi dengan rekan kerja yang baru saja saya kenal. Disini saya senang dapat berinteraksi dengan anak-anak, ya karena ini sekolah. Hanya saja ada perbedaan cukup signifikan antara sekolah ini dan sekolah negeri di Indonesia pada umumnya. Saya cukup kaget dengan anak-anak alias murid yang saya hadapi di sini, walaupun saya sudah diberitahu sebelumnya oleh Kepala Sekolah dan guru di sini. Anak-anak di sini ajaib luar biasa. It’s really ‘amazing’. Inget, ada tanda kutipnya lho itu. Kenapa cobaa? Karena saya baru kali ini ketemu murid-murid yang super lincah kelakuannya, omongannya dan mahir menggunakan trik-trik. Ini bukan karena sekolahnya sih, tapi karena memang karakter anak-anak dari berbagai negara itu dan mungkin pendidikan keluarganya.

Overall. menjadi guru di sini dituntut untuk lebih kreatif menghadapi anak-anak dan membuat setiap pelajaran lebih menyenangkan. Semoga saya ke depannya bisa menjadi guru yang membuat tingkah laku dan intelektual anak-anak semakin berkualitas baik.

Manajemen Keuangan Keluarga

Posted in Life | No Comments »

Teman-teman yang berharap untuk mendapatkan tips manajemen keuangan keluarga bukan disini tempatnya. Silakan tutup tab halaman ini. Hhaha. Saya hanya mau bercerita dan menasihati diri saya untuk masa depan. 

Baiklah, saya cukup tidak mengerti tentang transparansi dan akuntabilitas manajemen keuangan internal keluarga, sebenarnya saya sama sekali tidak mau mengerti. Tapi saya sangat bingung apabila hal-hal utama yang seharusnya telah dimasukan ke dalam daftar anggaran pengeluaran rutin, justru ini tidak diutamakan bahkan kekurangan sana-siani.

Saya hanya bertanya pada diri sendiri, untuk apa rizki yang dihasilkan kalau untuk kebutuhan anak kurang, kebutuhan rumah kurang, kebutuhan pribadi kurang, untuk apaa?? Kayaknya Rasulullah gak gitu deh, saya yakin dan percaya bahwa Rasul Muhammad Saw. sudah bisa memperhatikan sahabat dan umatnya sampai kehidupannya sangat sederhana karena sudah sangat memperhatikan betul keluarga dan anak-anaknya.

Saya menulis hal seperti ini bukan tanpa sebab dan protes tentang ‘kekurangan’, TIDAK DEMIKIAN. Saya menulis hal ini hanya ingin meluapkan isi pikiran dan jiwa tentang kegelisahan dan kebingungan tentang pengaturan keuangan apabila hal-hal yang tersier (kebutuhan lain-lain) itu malah tersedia dibanding kebutuhan anak dan sehari-hari. Saya sangat bingung, apalagi pengeluaran tidak diinformasikan transparan peruntukannya.

Saya pun paham, kekurangan karena memang kekurangan dengan kekurangan karena kebutuhan tersier didahulukan. Alasan kedua lah yang membuat saya mencurahkan isi pikiran untuk menulis di sini.

Apa salahnya untuk memperhatikan terlebih dulu anggaran kebutuhan anak dan sehari-hari?? Bukan hanya secara logika tapi juga realita, kepedulian untuk mengutamakan dan menyisihkan dulu anggaran untuk anak dan kebutuhan keluarga itu agar kita juga bisa menyisihkan dan memberikan pula untuk orang lain. Karena rizeki yang ada pada kita itu ada hak orang lain yang harus diberikan. Saya pun sangat menyadari akan hal itu. Saya pun secukupnya saja memenuhi kebutuhan diri, selebihnya saya anggarkan untuk kebutuhan orang lain juga. Namun hal pertama bagi saya, saya pun tidak mau merepotkan orang lain, itulah mengapa anggaran pribadi dan keluarga perlu dianggarkan terlebih dulu. Apabila manajemen keuangan keluarga rapih dan disiplin, tentu kita dapat memperhatikan pula anggaran untuk orang-orang yang membutuhkan. Bahkan bisa lebih bahagia, karena anak-anak dan keluarga yang menjadi amanah dari Allah sudah kita perhatikan pula.

Saya sebenarnya cukup sedih saat orang terdekat (namun jarang komunikasi dan tidak mau memahami saya) menyebut saya pelit, tidak mau peduli, tidak mau memberi atau dan meinjamkan uang untuk kebutuhan keluarga dan lain sebagainya. Jika menuduh saya seperti itu, ya harus dilihat kembali dan mengevaluasi sudah seberapa jauh memperbaiki pengaturan keuangannya. Jangan-jangan ada yang salah atau ada anggaran yang perlu diperbaiki sehingga kebutuhan dapat tercukupi kedepannya. Beliau tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, beliau tidak tau jika saya suka bertanya kebutuhan adik-adik saya dan memberikan sedikit rezeki yang saya bisa, makan bersama dengan nenek dan tante dirumah, bahkan saya juga memberikan hadiah untuk beliau. Tapi peduli itu bukan berarti tentang UANG kan??!! Apa semuanya harus diukur dengan UANG?? Dengan Kekayaan??

Bagi saya ukurannya itu adalah kecukupan, cukup untuk memenuhi kebutuhan utama untuk keluarga, anak dan sehari-hari. Cukup pula untuk bersedekah, cukup untuk berbagi kebahagiaan kepada yang kekurangan. Kalau rezeki sedang tidak banyak, ya cukuplah dulu mencukupi kebutuhan anak dan kebutuhan sehari-hari lalu mensyukurinya. Karena baik dan tidak perhitungan dengan orang lain itu bukan hanya diukur dengan materi semata, tapi menurut saya dengan apapun yang disertai dengan keikhlasan.

Saya memang belum mengalami bagaimana berkeluarga. Tapi untuk kedepannya hal ini bisa jadi sebagai bahan berpikir, mengkaji kembali bagaimana saya belajar mengenai manajemen keuangan.  membuat rezeki yang Allah berikan benar-benar barokah dan dapat digunakan untuk menggapai ridlo Allah. Dengan demikian, saya dapat turut serta dalam kemajuan Din yang diridloi Allah, tidak menyusahkan orang lain dan menyertai segala perbuatan dengan keikhlasan.

Aamiin.

 

Saya dan Pekerjaan

Posted in Life, Work | 1 Comment »

Selamat pagi! Hari yang cukup cerah di Kota Garut pagi ini. Sudah lama tak bersua dan menggoreskan cerita di blog kesayangan ini. Selalu saja saya berwacana untuk menulis ini dan itu di blog ini, tapi nyatanya belum saja terlaksana. Baru kali ini saya mood untuk meluapkan isi pikiran.

Pagi ini seperti biasa saya berada di kantor PNPM Tim 3 yang juga biasa dibilang Basecamp. Saya bekerja disini sudah 4 bulan sejak September 2013 lalu. Akhir-akhir ini saya mulai menikmati pekerjaan saya dan keluhan yang selalu saya lontarkan dalam hati telah berkurang. Hmm, sebenarnya bukan karena pekerjaan yang membuat saya mengeluh, tapi karena kondisi dan privasi. Solusinya, saya menyewa kamar kos untuk seenggaknya menyamankan diri saya sendiri agar bisa membuat semangat saya bertambah. Alhamdulillah, hal itu terasa dan semoga seterusnya. Aamiin.

Pemberdayaan Masyarakat. Yap, itulah inti pekerjaan saya kali ini. Tempat dimana saya bekerja ini tidak menuntut untuk menghasilkan produk unggulan hasil produksi pabrik, pemasaran produk, penelitian ilmiah suatu objek alam atau bekerja di kantoran menyelesaikan administrasi kantor dan lainnya. Pekerjaan ini langsung berhubungan dengan manusia yang ditempatkan sebagai objek. Objek tersebut kami, saya dan kawan2 tim, tuntun untuk menjadi subjek, pelaku. Masyarakat dituntun menjadi pelaku perubahan di lingkungannya sendiri dengan pengadaan program yang diinisiasi/distimulasi/dipancing oleh PNPM-MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Perkotaan). Di PNPM ini saya sebagai pendamping masyarakat (fasilitator kelurahan/faskel) dalam melaksanakan program-program oleh subjek.

Bagi saya, pekerjaan seperti ini tidak membuat saya kaget atau jetlag karena berbeda dengan pekerjaan kantoran seperti biasanya. Pengalaman saya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Program Pengabdian Masyarakat (KKN-PPM) UGM dan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) membuat saya cukup terbayang bagaimana pekerjaan pendampingan terhadap masyarakat. Hanya saja, ada satu hal yang cukup bikin sakit kepala, persyaratan administrasi. Persyaratan administrasi itulah yang membuat saya cukup terkejut malas karena hal yang saya hindari dan anti terhadapnya saat saya kuliah dan sekarang saya harus menghadapinya. Sekarang, hal itu bisa terkendali dan saya nikmati dengan senang hati.

Semoga Allah selalu meridloi jalan hidup saya hingga seterusnya. Aamiin.

Nothing To Read

Posted in Life | 1 Comment »

Sebuah tulisan tidak melulu harus dibaca. Kadang menulis hanya dibutuhkan untuk meluapkan perasaan dan pikiran kita agar dapat menyegarkan kembali otak yang penuh dengan kekacauan atau ketidaknyamanan. Nah, sekarang alasan itulah yang saya gunakan untuk menulis.

Kadangkala saya menemukan kelelahan dalam menjalani aktivitas harian. Entahlah karena apa, mungkin banyak faktor yang menyebabkan saya seperti itu. Atau mungkin pula karena suatu hal yang bagi saya cukup penting: ingin mencapai suatu target dengan cara harus bekerja sama dengan seseorang, tapi orang itu tetap teguh untuk tetap memperpanjang waktu proses pencapaian suatu target, dan sekarang saya tertahan lalu hanya bisa berproses perlahan, setahap demi setahap dan dengan kesabaran untuk mencapainya.

Atau mungkin saya butuh mencari kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran saya untuk tetap ceria dan menjalani hari-hari dengan menyenangkan. Yap, itu semua butuh proses, butuh referensi juga dan butuh menenangkan diri untuk menemukan kembali semangat. Saat ini, jangan khawatir, berubahlah. Mungkin saat ini yang bisa dilakukan adalah menikmati apa yang dirasakan sekarang dan mengurangi kelelahan dan perasaan lainnya agar kembali ceria.

Semoga saya dapat segera menemukan perasaan segar dan menyenangkan untuk hari-hari berikutnya.

Selamat malam.

Bisakah Pohon Mahoni Ditanam di Daerah Lumpur Sidoarjo?

Posted in Life | No Comments »

Untuk menetralisir pikiranku dari lingkup pekerjaanku di aktivitas sosial saat ini, saya mau sedikit menulis tentang pohon daerah tropis yang sangat jagoan.

Wih, Pohon satu ini sangat super keren! Dia bisa tinggal di daerah berminyak karena kontaminasi industri minyak atau pencemaran minyak di sebuah daerah. Yap, dia adalah Swietenia macrophylla alias Pohon Mahoni. Pohon mahoni yang sering didengar ternyata berasal dari daerah neotropis, atau daerah tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pohon ini termasuk Famili Meliaceae yang tumbuh hingga mencapai 30-40 m dan kelilingnya sepanjang 4 meter. Perlu beberapa orang untuk memeluk seluruh batangnya karena sungguh besar diameternya.

Pohon ini sangat banyak manfaatnya baik untuk kesehatan/obat medis, mebeul, interior hingga memperbaiki kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan yang dapat diperbaiki yaitu daerah yang terkontaminasi oleh minyak/petroleum. Contohnya tanah dan di daerah industri yang tercemar minyak bisa ditumbuhkan pohon S. macrophylla ini. Jangan dipikir semua tumbuhan bisa tumbuh di berbagai daerah lho. Karena sangat jarang tumbuhan yang dapat bertahan di lingkungan ekstrim, tidak se-adaptif mikroorganisme semisal bakteri.

Pohon mahoni, yang diteliti oleh Hernandez et al. (2013),  dapat tumbuh lebih tinggi di daerah yang memiliki kandungan minyak daripada di tempat yang bersih dari kontaminasi, tetapi biomassanya tidak berubah.

(bersambung)

 

First Day Working

Posted in Activity, Diary, Life | No Comments »

Selamat malam! Assalamulaikum..

Akhirnya saya menginjak fase baru di kehidupan dunia yang fana ini, bekerja. Saat ini, Allah menunjukkan saya bekerja di PNPM Mandiri Perkotaan Kota Garut sebagai Fasilitator Community Development. Saya ingin mencoba menyelami dunia kemasyarakatan karena saya suka berinteraksi dengan orang lain, rasanya ada energi yang masuk ke dalam jiwa. Selain itu, saya juga punya hasrat yang besar untuk mendalami kebudayaan masyarakat terutama masyarakat Sunda. Karena rasanya saya merasa bersalah saat saya cukup mengerti bagaimana kehidupan sosial warga Yogyakarta selama 4 tahun, tetapi saya belum paham bagaimana kehidupan sosial masyarakat Sunda, kebudayaan sendiri. Semoga saya bisa lebih belajar memahaminya agar visi terbentuknya masyarakat madani tercapai.

Namun, tak dapat dipungkiri saya ingin tetap meneruskan belajar ke tingkat prasarjana alias S2 di bidang Biomanajemen ITB. Semoga saja Allah mengijinkan saya untuk belajar S2 di ITB tahun depan.

Balik lagi ke kegiatan saya bekerja. Saya memulainya hari Senin kemarin, tanggal 23 September 2013. Saya berangkat dari Bandung ke Garut jam 09.00 lalu tiba sekitar jam 11. Setelah itu saya berkenalan dengan Tim, karena PNPM ini ibarat KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang diadakan UGM dimana satu unit dibagi menjadi beberapa sub unit begitu pula PNPM menyebut sub unit sebagai Tim, hanya saja fasilitator yang tergabung dalam tim yang digaji per bulannya.

Kesan pertama saya diperkenalkan dengan tim ya cukup weird karena saya harus bekerja sama dengan orang-orang yang relatif jauh lebih senior dari pada saya. Sehingga saya juga harus mencoba menaikkan kedewasaan saya untuk berpikir seperti mereka. Secara keseluruhan, mereka sangat ramah dan menyenangkan. Nama kawan satu tim dengan saya yaitu: Mba Erna (bos saya), Teh Leni (fasilitator keuangan), Teh Nina (fasilitator teknik) dan Kang Reva (fasilitator CD, satu bidang dengan saya). Dan saya akan lebih banyak bekerja sama dengan Kang Reva karena satu divisi. Tapi ini kerja tim dan semuanya harus saling bantu.

Selama ini, cukup menyenangkan bisa banyak belajar menikmati dan menyesuaikan dengan alam, tim dan masyarakat. Semoga saya bisa lebih berkualitas dihadapan Allah dengan pekerjaan yang Allah Kasih ini. Semoga Allah senantiasa meluruskan dan menuntun niat saya untuk selalu ke arah yang lurus, jalan-Nya. Dan semoga Allah selalu melancarkan dan memampukan saya bekerja, termasuk apapun yang saya lakukan. Aamiin.

Guten nacht! Gut schlaf und susse traum!

Fresh Graduate Syndrome: Belajar Memahami Hakikat Bekerja

Posted in Diary, Life | 4 Comments »

Barusan saja, banyak ide yang muncul di otak ingin saya tuliskan di blog ini. Tapi setelah di depan laptop, kata-kata itu seperti tinta di kertas yang memudar terpercik air.

Oke, saya akan coba menggali kata-kata itu. Kali ini saya akan menuliskan hal tentang pekerjaan. Yap, hal ini saya singgung karena sekarang menjadi hal yang sangat dekat dengan saya setelah selesai kuliah, karena sementara ini lah saya memutuskan untuk menekuni ‘pekerjaan’. Sebenarnya, saya belum begitu memahami hakikat bekerja di sebuah lembaga, menjadi karyawan perusahaan ternama bahkan wiraswasta. Dan sekarang, seiring kata demi kata mengalir dari papan ketik yang saya tekan, saya akan menuliskan apa yang saya pikirkan tentang hakikat pekerjaan. Semoga saya bisa menemukannya.

Hakikat menurut saya adalah ‘makna dasar’. Penemuan hakikat pekerjaan sangat dibutuhkan bagi saya. Karena sebelum melangkah untuk bekerja, ‘makna dasar’ bekerja rasanya butuh saya yakini.

Pemikiran saya, bekerja adalah salah satu bentuk kebutuhan utama manusia untuk bertahan hidup, seperti yang diajarkan pada kuliah Ekologi. Manusia mempunyai keinginan dasar yang sama dengan makhluk hidup lain untuk tetap eksis, agar tidak punah. Ketidakpunahan dapat diartikan dua makna: manusia tersebut hidup berumur panjang dan bisa menghasilkan keturunan.

Dalam membuat dirinya bertahan hidup, manusia jaman sekarang sayangnya telah diperbudak oleh sistem ekonomi yang membuat uang menjadi satu-satunya benda yang harus didapatkan agar bisa memenuhi kebutuhan utama untuk bertahan hidup dan tidak punah.

Bekerja, di berbagai lingkungan dengan cara yang berbeda pada setiap manusia, membuat manusia itu istimewa. Tidak ada makhluk hidup lain yang mempunyai potensi untuk melakukan hal tersebut dan menciptakan inovasi dan kreativitas. Terlebih lagi, makhluk hidup lain justru dimanfaatkan manusia untuk bertahan hidup.

Tapi apakah alasan utama bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup saja? Bisakah kita sendiri memenuhi kebutuhan hidup tanpa bekerja?

Bekerja bisa dimaknai dengan melakukan usaha apapun. Tapi bekerja dalam arti yang lebih nyata adalah berusaha di bidang apapun untuk mendapatkan suatu hasil (dalam hal ini uang) sebagai alat tukar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Tapi seharusnya bisa saja pola pikir masyarakat dirubah niatnya dalam berusaha. Karena, uang seberapa banyak bisa datang kapan saja sesuai rezeki yang sudah Tuhan tentukan. Namun, apa niat utama yang butuh kita yakini dalam bekerja? THAT’s THE POINT.

Niat dalam bekerja menjadi poin paling penting dalam menentukan seberapa berharganya kita bekerja. Apakah bekerja untuk menjadi kaya raya, tinggi jabatan, hidup enak, masa tua terjamin? Apakah selama bertahun-tahun bekerja hanya untuk mencapai tujuan itu? Tujuan itu tidak bisa dibilang salah, ada benarnya. Namun, sepakatkah kita jika tujuan itu terlalu pendek, terlalu dangkal dibandingkan dengan usaha yang sudah kita lakukan untuk mendapat pekerjaan itu? Sayang sekali kalau tujuan kita bekerja hanya untuk sependek itu.

Disisi lain, apapun keyakinan kita, rasanya sepakat kalau kita semua akan mati. Kita pula mungkin sepakat kalau kita pun tidak mengetahui apa yang terjadi setelah mati. Kita hanya mempunyai harapan bahwa setelah mati akan terus hidup bahagia di surga. Nah, bagaimana kita menghubungkan bagaimana niat kita bekerja dengan kehidupan setelah mati yang katanya kita pun ingin bahagia hidup di surga?

Kita bisa memulainya dengan menyadari kalau surga tidak mungkin ada dengan sendirinya dan pasti ada yang menciptakan. Itulah Sang Pencipta. Kemudian, kehidupan saat ini pun semuanya milik Sang Pencipta. Dari sinilah titik bagaimana niat kita bekerja untuk membuat Sang Pencipta senang dan rela memberikan apapun yang kita butuhkan untuk bahagia setelah kehidupan di dunia berakhir.

Apakah niat kita bekerja untuk membuat Sang Pencipta senang dan rela dengan kita? Apakah berarti kita harus tahu diri untuk berbuat semua ini untuk Sang Pencipta? Apakah berarti dimanapun kita bekerja kita harus berorientasi pada keinginan Sang Pencipta? Mungkin setiap hati nurani kita akan menjawab: IYA.

Sebenarnya Sang Pencipta tidak muluk-muluk meminta kita sesuatu yang sangat berat. Sang Pencipta kita hanya mau yang baik-baik dari kita kerjakan. Sebagai Sang Pencipta alam dan segala isinya termasuk menciptakan kita, mungkin Dia ingin kita menjaga dan memanfaatkan alam dan segala potensi yang dikasih dengan sebaik mungkin, jangan serakah, tidak berlebihan. Sang Pencipta sebagai yang menciptakan manusia hanya mau manusia saling damai dan saling mengingatkan bahwa kita adalah ciptaan-Nya. Kalau sombong ya Sang Pencipta pun akan marah dan tidak mau memberikan kebahagiaan di kehidupan setelah dunia ini. Sang Pencipta hanya mau kita taat bersama-sama. Sang Pencipta hanya menawarkan kepada manusia kalau kita ingin bahagia di akhirat, ya bekerjalah dan mendedikasikan dirilah untuk Sang Pencipta, dimanapun kita bekerja.

Bentuk dedikasi untuk Sang Pencipta bisa dilakukan dengan berbagai banyak cara, sesuai pekerjaannya masing-masing. Asalkan, kita sebagai manusia bersama-sama mempunyai tujuan  jangka panjang untuk bekerja dengan niat pengabdian diri kepada Sang Pencipta, dalam bentuk menjadi orang yang bermanfaat untuk alam dan orang banyak, saling mengingatkan bahwa kita sepantasnya mendedikasikan diri untuk Sang Pencipta.

Hal-hal tersebut dapat saya pahami sebagai hakikat bekerja.

Hanya Sang Pencipta yang Maha Tau kebenaran, semoga kita ditunjukkan ke jalan-Nya.

Random Voices of My Mind

Posted in Life | No Comments »

Pikiran bertebaran berantakan di dalam otak. Segala dipikirkan, segala hal terlintas.

Agak sedikit menyebalkan saat saya melihat kesempatan pekerjaan yang bisa diajukan oleh lulusan Biologi tapi ternyata kualifikasinya tidak demikian. Padahal, saya pun yakin kalau lulusan Biologi pun punya kualitas yang sama dengan lulusan dari jurusan yang lain. Biologi masih dipandang sempit dan penghargaannya sangat kecil dari segi kesempatan bekerja di pemerintah dibanding dengan lulusan Teknik. Yah, seperti dosen saya pernah bilang kalau ilmu murni seperti Biologi ini lebih dikagumi dan dihargai oleh orang-orang asing dibandingkan ilmu terapan, karena mereka sangat menghargai dan mendalami penelitian ilmu murni yang akan menjadi dasar/basic dari ilmu terapan.

Well, beralih ke cerita lain. Saya cukup kaku untuk menentukan langkah pekerjaan. Kaku karena terpikir tentang hakikat sebagai wanita. Saya menyadari kalau wanita lebih memiliki peran yang penting di rumah. Namun peran itu ada setelah statusnya tidak lagi lajang. Di sisi lain, pembiasaan untuk mengurusi peran penting di rumah sebenarnya perlu dilakukan dari awal, termasuk awal pengambilan keputusan bekerja. Bagaimanapun, keputusan di awal berkarir akan berdampak dengan konsekuensi kedepannya. Meskipun saya tidak tau masa depan, visi/cita-cita yang Allah anugerahkan ke otak saya menjadikan saya membuat strategi saat ini. Itulah yang perlu dipersiapkan, termasuk keputusan bekerja.

Selain masih jadi anggota baru pengangguran (sementara), saya akan menyampaikan kesan Wisuda. Saya lebih merasakan lega saat revisi skripsi saya beres. Saya hanya merasakan capek dan gerah saat wisuda. Tapi mungkin, momen wisuda ini didedikasikan untuk orang tua saya yang terlihat senang melihat anaknya menjadi sarjana. Alhamdulillah.

Tentang Jogja. Saya masih jet lag kebudayaan dan kebiasaan antara di Jogja dan di rumah saya, Bandung. Mungkin karena saya sudah benar-benar pindah dari Jogja jadi cukup merasa kehilangan beberapa rasa dan momen dari kehidupan saya di Jogja sebelumnya. Saya kangen sama harga makanannya, obrolan bersama teman-teman, ikut kegiatan di sana-sini, menikmati waktu pribadi di kos seharian, pergi ke pantai bareng anak KSK Biogama, Jogja yang rapih dan bikin aku malu sama kotaku sendiri dan banyak lagi. What nice moments. I always miss the moments in Yogyakarta. Love you.

Rindu

Posted in Life | 1 Comment »

Aku merindu pada pikiranku yang mengalir dalam kata
Dengan diam kata itu membuatku berarti
Menjadikanku lebih hidup seakan membebaskan pikiranku lepas
Dari keseharian raga yang terikat rutinitas
Aku rindu membiarkan terbang menyusuri berbagai pelosok makna, suasana
Menentang arah pikir yang tak akan kubiarkan
Aku rindu pada kata yang bebas kutuliskan.
Rinduku, aku menanti kata bisa lagi mengalir keluar lega.

Kapan Aku Bisa Cerita?

Posted in Life | No Comments »

Sebenarnya banyak yang bisa dan saya ingin ceritakan di blog ini, mulai dari KKN, lebaran, aktifitas di kampus, tugas akhir, proposal skripsi, kegiatanku lainnya. So many. I hope I can tell my story more next time.
Mungkin aku akan mulai mencicilnya. hhehe.Baiklah. 😀

Message from Belgium

Posted in Life | No Comments »

“Hope you’ll be able to travel wherever you want soon after you finish your studies…”
Didier Boulvin

Wanita: Pendidik dan Pemberi Inspirasi

Posted in Artikel, Inspirasi, Life | 4 Comments »

Wanita itu sebenernya ngapain aja sih? Tujuan diciptakan wanita untuk apa sih? Kan ada yang bilang juga ngapain sekolah tinggi-tinggi klo pada akhirnya dirumah. eh, justru salah.. Wanita itu sekolah harus sampai tinggi! soalnya klo dilihat secara logis. wanita adalah pendidik, siapapun yang dididiknya anaknya ataupun bukan, wanita itu pendidik. Banyak feminis bilang kalau wanita harus emansipasi-kesetaraan gender, wanita bisa kerja berat, wanita bisa ngantor juga, wanita bisa disamakan derajatnya dan kemampuannya sama laki-laki dan sebagainya. Boleh saja begitu, tapi wanita punya dasar dia diciptakan ya sebagai pendidik, sebagai ibu. Dia punya naluri yang berbeda dengan laki-laki dan ga bisa disamain. Dalam ilmu ilmu biologi aja anatomi antara kedua gender sudah berbeda. setiap makhluk punya fungsi yang berbeda-beda termasuk wanita.

Menurutku, mau ga mau, secara ga sadar fungsi wanita seperti itu. Siapa yang mau mencerdaskan bangsa kalau wanita tidak mau berperan untuk mengurusi anak-anak, urusan rumah, mendidik anak-anaknya? Saat semua laki-laki kerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, kemudian ada anak-anak di rumah, siapa yang mau menjaga dan mendidik? Aku merasakan bahwa wanita itu sebagai pendidik walaupun yang dididik itu bukan anaknya. Berdasarkan hidupku, sekarang aku sangat menyadari bahwa aku ternyata belajar banyak dari pendidikan keluarga di rumah. Nenekku dengan kebiasaannya secara ga langsung mengajari bagaimana hidup bersih, rapi dan teratur. Contohnya, nenekku selalu mengingatkanku kalau memakai gunting kuku di rumah, aku harus mengembalikannya lagi ketempatnya. Rasanya itu hal sepele, tapi hal itu jadi mempunyai dampak yang besar bagiku. Nenekkku pernah bilang, “yang penting bukan bagus, tapi rapih”.

Selain nenekku, aku mempunyai dua tante yang sangat hebat dan menginspirasi. Tanteku tinggal di Bandung bersamaku biasa kupanggil bi Diah. Dia juga secara gak langsung mengajariku bagaimana bersikap dan ramah kepada setiap orang, bi Diah selalu tulus untuk mengurusi aku dan keluarga lainnya. Ada pula tanteku satunya yang tinggal di Jakarta, bi Ijul, dia sangat enerjik dan memiliki kehidupan yang mengagumkan bagiku. Jika aku punya waktu liburan, aku sempatkan liburan bersama dengannya. Aku belajar kemandirian, kreatif, dan hidup penuh makna dari beliau. Begitu juga dengan mamaku. Walaupun mama terkesan cuek terhadapku, tapi mama begitu peduli terhadap kemandirianku dan mamaku juga sangat perhatian dengan cita-citaku. Dia mendukung apapun yang aku lakukan atas dasar untuk Allah. Mereka wanita hebat yang mendidik aku jadi saat ini.Yap, hidupku bukan untuk diri sendiri, tapi untuk Islam, untuk Allah.

Bagiku, wanita sangat perlu mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya maupun pendidikan informal lainnya, termasuk berhak menjadi pemimpin jika memang mempunyai kapabilitas. Semuanya itu sebenarnya dalam rangka untuk menjadi pendidik, pemberi inspirasi untuk generasi berikutnya bahkan bisa jadi sebagai pembawa kebudayaan. Sehingga wanita perlu terus meningkatkan kualitas diri untuk berperan serta meningkatkan kualitas generasi bangsa, apalagi bangsa Indonesia. Hal terdekat yang bisa dilakukan adalah di rumah bersama keluarga, di sekolah, kuliah, atau dimanapun berada. Hal mengenai kesetaraan gender perlu disikapi bukan hanya karena keegoisan wanita semata-mata. Emansipasi juga bukan untuk menunjukkan bahwa wanita pun perkasa. Tapi menyuarakan emansipasi pun perlu bijaksana, dalam kasus dan konteks yang benar-benar mengeluarkan wanita dari belenggu ancaman dan rasisme laki-laki, bukan untuk kebebasan. Hindari untuk menyamakannya.

Itulah kiranya pandangan saya tentang wanita. Saya sebagai wanita menyadari bahwa kita punya peran penting untuk menjadi inspirasi untuk meningkatkan kualitas generasi selanjutnya dalam peran apapun: sebagai anak, teman, sahabat, cucu, ibu, tante, dan lainnya. Semangat mendidik hai para wanita hebat!

Vetiver, Tumbuhan ‘Vacuum Cleaner’

Posted in Artikel, Research | No Comments »

written by Amarizni M.

Vetiver merupakan rumput ajaib. Rumput tersebut memiliki nama latin Vetiveria zizanioides dan juga memiliki sinonimnya yaitu Chrysopogon zizanioides, atau di Indonesia biasa dikenal sebagai ‘akar wangi’. Vetiver adalah tumbuhan asli India yang termasuk kedalam Family Poaceae. Pertumbuhan Vetiver dapat mencapai tinggi 1,5 m dan hidup berkoloni padat. Bunganya berwarna ungu-kecoklatan. Tumbuhan yang termasuk growthform rumput ini dapat tumbuh di berbagai kondisi lingkungan. Ciri morfologi tumbuhan ini seperti rumput pada umumnya: batang berukuran panjang, daun sejajar dan tipis serta agak rigid (Truong et al., 2008).

Gambar 1. Tumbuhan Vetiveria zizanioides (atas), bagian akar dari rumput tersebut (bawah).

Batang tumbuh dari bawah tanah dan mempunyai kemampuan untuk tahan terhadap pembekuan, kebakaran dan tekanan aktivitas makan binatang ternak. Daunnya memiliki panjang sekitar 120-150 cm dan lebar 0.8 cm.  Panjang panicle mencapai 15-30 cm dan mempunyai batang berkisar 2,4-5 cm. Sistem akar Vetiver terstruktur sangat kuat. Pertumbuhannya dapat mencapai 3-4 m kedalam tanah pada tahun pertama pertumbuhan. Dengan begitu, Vetiver memiliki toleransi yang sangat luas pada kekeringan dan dapat melindungi tanah dari erosi (Truong et al.,2008).

Berikut ini klasifikasi taksonomi rumput Vetiver:

Kingdom: Plantae

Division: Magnoliophyta

Class: Liliopsida

Ordo: Cyperales

Family: Poaceae

Genus: Vetiveria Bory

Spesies: Vetiveria zizanioides (L.) Nash

Spesies rumput Vetiver memiliki dua genotipe, yaitu Vetiveria zizanioides viz. yang fertile yang berasal dari India utara dan genotipe lainnya ada di India selatan yang biasa dipakai di negara Asia lainnya. Negara produsen terbesar yaitu Haiti, India, dan Jawa(Indonesia). Vetiver steril berkembangbiak dengan stolon bawah tanah dan dapat dikontrol pertumbuhannya. Contoh genotip steril yang berhasil dikembangkan oleh Australia adalah genotype ‘Monto’ dan rumput genotype ini dapat digunakan lebih optimal sebagai makanan ternak hewan local Australia (Truong and Baker,1998).

Rumput ini disebut sebagai rumput ajaib karena banyak manfaat dari rumput ‘akar wangi’ ini. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai bahan kosmetik dengan mengekstrak minyak yang ada di akar dan juga untuk aromaterapi. Hal ini dikarenakan kemampuannya yang bagus sebagai bahan fiksatif (Fahlbusch et al., 2003).

Fiber yang terkandung dapat digunakan untuk pembuatan kerajinan. Selain itu rumput ini memiliki kandungan nutrien yang bagus untuk makanan hewan ternak, seperti domba, kuda, sapi. Jumlah nutrient tergantung dari musim, tingkat pertumbuhan, dan kesuburan tanah. Namun secara umum, Vetiver mempunyai kandungan nutrisi yang banyak saat setiap 1-3 bulan dipotong (Truong et al., 2008).

Ditambah lagi, rumput ini mempunyai manfaat besar sebagai pelindung dari erosi, hama pada tanaman perkebunan, dan fitoremediasi logam berat. Karena Vetiver memiliki toleransi yang cukup besar terhadap habitat, suhu, intensitas cahaya, hingga lingkungan yang cukup ekstrim. Untuk mengoptimalkan manfaat tersebut, tumbuhan ini perlu dibudidayakan di lingkungan yang butuh dilindungi dari ancaman erosi atau di lingkungan yang tercemar (Truong et al., 2008).

Banyaknya manfaat dari tumbuhan Vetiver ini membuat banyak orang mencoba untuk mengembangkan sistem budidaya tumbuhan ini. Salah satunya untuk konservasi tanah dan air dengan menggunakan tumbuhan ini untuk mendekontaminasi logam berat dan merehabilitasi suatu lingkungan tercemar. Karena, Vetiver ini mempunyai toleransi terhadap logam berat yaitu AL, Mn, Mg, As, Cd, Cr, Ni, CU, Pb, Hg, Se, Zn dan herbisida-pestisida di tanah (Sinha et al., 2003).

Teknologi yang dikembangkan untuk konservasi tanah dan air, serta rehabilitasi lingkungan dengan menggunakan Vetiver dinamakan Vetiver Grass Technology (VGT). Berikut ini tabel parameter lingkungan yang dapat ditumbuhi Vetiver.

Tabel 1. Faktor dan syarat pertumbuhan Vetiver (Truong et al., 2008)

Faktor Syarat
Tanah Tanah berpasir, tanah agak liat, tapi tanah liat tidak dapat ditumbuhi.
Topografi Hindari dikemiringan yang tinggi karena dapat menyebabkan kelebihan air. Lokasi yang datar dianjurkan, tapi asupan air harus tetap dimonitor. Vetiver dewasa tahan di kondisi yang penuh kandungan air.
Nutrisi Menyerap nutrient terlarut seperti N dan P, toleran terhadap Sodium, Mg, Al, dan Mn.
pH dan Kondisi tanah Bertahan di pH 3,3-12,5; tahan terhadap kadar garam tinggi.
Logam berat Dapat menyerap logam berat terlarut dari air berpolutan: As, Cd, Cr, Ni, Pb, Hg, Se, dan Zn.
Cahaya dan Temperatur Dapat tumbuh dibawah naungan (shading). Toleran tumbuh di suhu -15C hingga 55C. Namun, tumbuh optimal di temperatur 25C. Akar berdormansi di suhu 5C.
Air Bertahan di kekeringan, banjir, dan menggenang;Toleransi di tingkat presipitasi 6,4-41,0 tapi sekurang-kurangnya 225 mm.

Vetiver bekerja sebagai penyaring biologis dalam mencegah pergerakan tanah dan menyerap polutan. Dengan sistem perakarannya dan tingginya penyerapan substansi pada organ tubuhnya, vetiver dapat mengkonservasi dan membersihkan air, sehingga mencegah dan mengurangi komponen yang dapat merusak fungsi dan molekul air.  Tumbuhan ini dapat menstabilkan struktur desain kemiringan aliran sungai, waduk kecil, dan sedimentasi sungai sehingga dapat menghindari bencana karena kerusakan struktur watershed.

VGT adalah suatu desain biologis yang dapat digunakan sebagai metode untuk merespon mitigasi lingkungan secara serius. Penelitian dan aplikasi terhadap ‘akar wangi’ ini telah menunjukan bahwa tumbuhan ini dapat mengurangi reduksi tanah 90%, penyerapan air hujan 70%, menghilangkan bahan kimia dari lahan pertanian 40%, dan juga merehabilitasi tanah tercemar (Grimshaw, 2000).

Dekontaminasi tanah berpolutan dapat dilakukan oleh Vetiver dengan menyerap dan mengakumulasi polutan. Salah satunya polutan Trikloroetilen (TCE). TCE adalah salah satu polutan lingkungan yang popular di dunia industry. Penggunaannya yaitu untuk menghilangkan logam, agen pembersih pada laundry, dan untuk pembiusan. TCE senyawa kimia yang stabil dan bersifat karsinogenik dapat merusak hati (hepatotoxin). Di daerah industry di Thailand, tanah dan air tanah telah tercemar TCE (Shang et al, 2001).

Beberapa tumbuhan telah diuji coba sebagai tumbuhan fitoremediasi TCE, yaitu tembakau, wortel, bayem, tomat, dan tumbuhan lainnya. Namun, Janngam et al.(2010) menguji kemampuan Vetiver dalam meremediasi tanah yang terkontaminasi.

Vetiver yang digunakan untuk remediasi TCE yaitu 4 ekotipe yang berbeda yaitu Songkla3, Sri Langka, Khampaeng Phet2, dan Surat Thani. Umur tumbuhan tersebut berkisar antara 1-1,5 bulan lalu ditanam bersamaan selama 3 minggu. Sebelum ditanami di lokasi penelitian yang terkontaminasi TCE, keempat ekotipe rumput tersebut dipotong sepanjang 25 cm. Air diberikan pada tumbuhan tersebut selama 2 hari sekali. Tanah yang terkontaminasi TCE diambil dari Pratum Thani, Thailand (Tabel 2).

Penanaman dilakukan selama 1 bulan. Keempat ekotipe dapat tumbuh di tanah yang terkontaminasi TCE dan tingkat survivalnya adalah 100%. Hasil memperlihatkan bahwa TCE terakumulasi di daun daripada di akar atau batang.

Tabel 2. Karakteristik Tanah

Ekotipe Sri Langka paling banyak menyerap TCE di bagian daunnya dibanding ekotipe yang lain (Tabel 3). Mekanisme kemampuan Vetiver dalam mengakumulasi TCE yaitu: TCE diserap dari tanah dengan mengumpulkannya, kemudian saat Vetiver tumbuh, TCE ditranslokasikan dari tanah melewati akar ke batang dan daun. Sdengan demikian tanah akan bersih dari kandungan TCE.

Berdasarkan tabel 4, faktor translokasi dua ekotipe : Sri Langka dan Songkhlar 3,  lebih dari 1. Hal itu mengartikan bahwa penyerapan polutan TCE sangat efektif pada ekotipe tersebut. Sekitar 98% TCE dapat hilang di dalam tanah setelah Vetiver ditumbuhkan selama 1 bulan.

Dengan begitu, Vetiver sangat efektif dapat menyerap TCE. Setelah daun digunting, TCE dapat dihilangkan dari tanah dan tidak lagi terkontaminasi oleh TCE. Selanjutnya, Vetiver dapat kembali tumbuh dan tetap berfungsi sebagai penyerap sisa polutan TCE dalam tanah (Janngam et al., 2010).

Daftar Pustaka:

Fahlbusch, K.G., F.J. Hammerschmidt, J. Panten, W. Pickenhagen, D. Schatkowski, K. Bauer, D. Garbe, H. Surburg.2003. “Flavors and Fragrances” in Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim.

Grimshaw,Dick.2000.Vetiver and the Environment-The Future, Paper presented at the 2nd International Conference on Vetiver, Thailand.

Janngam J., P. Anurakpongsatorn , T. Satapanajaru, S. Techapinyawat .2010. Phytoremediation : Vetiver Grass in Remediation of Soil Contaminated with Trichloroethylene. Sci.J. UBU. Vol.1:52-57.

Shang, T.Q., Doty, S.L., Wilson, A.M., Howald, W.N., & Gordon, M.P. 2001. Trichloroethylene oxidative metabolism in plants: the trichloroethanol pathway. Phyto- chemistry., 58, 1055-65.

Sinha RK, Herat S and Tandon PK.2003.A Review of Phytoremediation as a Cost- effective, Ecologically Sustainable and Socially Acceptable Bioengineering Technology, Proceedings of National Environment Conference (NEC), Brisbane, June 18-20, 2003

Truong P., T. Tan Van, E. Pinners.2008. Vetiver Systems Application, Technical Reference Manual. The Vetiver Network International. pp. 89.

Truong P, Baker D.1998. Vetiver Grass System for Environmental Protection, Technical Bulletin No. 1998/1; Pacific Rim Vetiver Network, Bangkok, Thailand.

Catatan #refleksi

Posted in Diary, Life | No Comments »

Ini adalah kata-kata yang terluapkan pada dini hari ini di Twitter. Saya tidak mau kalimat berhashtag #refleksi hanya sebatas memenuhi linimasa, tapi makna kata-kata yang tertulis ini perlu juga dihayati.

Allah sayang, bukankah penilaian tentang keyakinan juga dari kebersamaan dlm sistem? blm kudapatkan kebersamaan itu,sbatas koloni. #refleksi

Allah sayang.. bukankah hakikat itu mutlak dan rasional?akal manusia sebenarnya mengerti. mengapa masih ada yg tidak menerima? #refleksi

Allah sayang.. Tuntunlah cinta, cita, dan keyakinan pada hakikat sebenarnya. Hakikat yg bkn lg dr perspektif manusia tp diriMu #refleksi

Allah sayang, Engkau ga punya twitter juga pasti udah jauh lebih tau apa yg mau kukatan ya. I just wanna share what’s happening in my mind.

38m amarizni ‏@amar_yaa

Allah sayang, bukankah perspektif kehidupan dunia itu untuk kehidupan akhirat? #refleksi

Allah sayang, apakah aku boleh bertanya tentang inti segala kehidupan? #refleksi

Allah sayang, dunia ini begini ya? #refleksi

amarizni @amar_yaa –> from some parts of my Twitter Timeline

Segenggam Pikiranku

Posted in Diary, Life | 3 Comments »

Ini hanya butiran-butiran pasir pemikiran yang ada di genggaman pikiranku. Karena aku ingin nulis mendalam dan panjang tentang semua ini, tapi masih aja belum ada kesempatan untuk bisa untuk meluapkannya. Jadi ini dia, beberapa pemikiranku..

Diskusi sama ‘kakak’ku di Jogja, Kak Nadia. Kita berpikir kalau peraturan mahkamah konstitusi yang baru tentang wakil menteri akan dinon-aktifkan adalah keputusan yang sungguh terbalik. Semestinya, lebih baik menteri aja yang diturunkan jabatannya, karena menteri hanya titipan partai koalisi. Contohnya aja bisa-bisanya dulu ada yang jadi Menteri Pariwisata sekarang jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral? Kalau kata orang alay luar negeri: It seems so Dafuq!!

Butiran pasir pemikiran lainnya.

Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Tarbiyah atau organisasi Islam lainnya menurutku mempunyai tujuan yang sama: Islam sebagai rahmatan lil alamin (Islam untuk seluruh alam, Islam sebagai aturan untuk dunia dan akhirat yang bahagia). Organisasi-organisasi itu dan orang-orang yang berada di dalam organisasi ini adalah satu dan saling bersaudara. Tidak ada keraguan untuk bersatu bersama berjuang SELAMA mempunyai satu prinsip yang sama: sesuai SYAHADAT, RUKUN IMAN, RUKUN ISLAM. Selain itu, ya kita bisa bertanya sendiri dan bisa menyimpulkan apakah mereka ‘yang lainnya’ itu termasuk Islam atau engga?

Pasir pemikiran lainnya..

Orang-orang tuh sadar ga sih kalau manusia tuh buat apa sih bikin mall?! Coba pengusaha bisa bertanya dalam hati, buat apa? pasti buat keuntungannya sendiri kan?? Tapi sadar ga sih kalau orang-orang yang beli barang-barang di mall juga, apalagi sayur-buah-makanan, ga akan bisa beli kalau ga disalurin dari tempat yang bisa kita sebut sebagai ‘desa’,tempat yang biasa diantipatikan, direndahkan. Padahal apa? mereka itu yang menghidupi kita! Kenapa malah orang kota sombong? Padahal orang kota, mati lampu dikit aja udah ga bisa berbuat apa2, panik, terdiam. Sadarkah? Tentunya kita harus saling mengerti dan menghormati.

Apa yang aku bisa perbuat untuk Allah dan bangsaku?

-bergeming dan merenung lalu mari beraksi-